UPDATE : INFORMASI PENERIMAAN MAHASISWA BARU KUNJUNGI : www.pmb.umk.ac.id || PENDAFTARAN MAHASISWA BARU KUNJUNGI : www.umk.ac.id/daftar || PENDAFTARAN MAHASISWA BARU 2017/2018 GEL. I DIPERPANJANG HINGGA 24 MEI 2017

Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus Upayakan Rehabilitasi Lahan di Wonosoco

(2/3/16) Hendy Hendro Hadi Sridjono beserta Untung Sudjianto selaku dosen dan beberapa mahasiswa Fakultas Pertanian UMK berkunjung ke balai desa Wonosoco untuk melihat kondisi lahan yang berada di daerah tersebut.

Wonosoco merupakan salah satu desa yang berada di kawasan Undaan, Kabupaten Kudus. Wonosoco berbatasan langsung dengan kabupaten pati disebelah timur dan kabupaten Grobogan di bagian barat dan selatan.

Setiap tahun daerah Wonosoco selalu dilanda banjir bandang sehingga menyebabkan kerugian materiil bahkan menelan korban jiwa, ungkap Setiyo budi selaku Kades Wonosoco. Sebagian besar daerah wonosoco terdiri dari kawasan hutan baik hutan rakyat maupun milik Perhutani. Banjir bandang yang kerap terjadi tersebut berasal dari limpahan air begitu besar dari kawasan hutan. Hal tersebut diperparah dengan pola budidaya tanaman masyarakat yang saat ini masih bertanam tanaman semusim saja di kawasan hutan, seperti jagung dan ketela. lahan tersebut sejatinya harus ditanami oleh tanaman tahunan sebagai tanaman penjerab tanah dan penyerap air sehingga bisa meminimalisir resiko banjir bandang yang kerap terjadi tersebut.

Peninjauan kawasan lahan Wonosoco (dokumentasi pribadi)

Oleh karena itu, dosen beserta mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus beritikad baik untuk mengupayakan rehabilitasi lahan yang ada di daerah sana, hal tersebut pun mendapatkan respon positif oleh kepala desa Wonosoco dan Camat Undaan. Lahan yang fokus untuk di rehabilitasi tersebut merupakan kawasan tersebut hanya ditanami oleh Jagung sehingga ketika hujan deras, air tersebut mengalir deras yang berakibat banjir bandang di Wonosoco.

Bentuk rehabitasi hutan yang diupayakan yaitu dengan menggunakan konsep Agroforestri. Konsep Agroforestri merupakan suatu konsep dimana tanaman hutan dikombinasi dengan tanaman pertanian. Rancangan teknis meliputi penentuan jenis tanaman, jarak tanam, pola tanam dan kebutuhan bibit tanaman yang dibutuhkan. Penentuan jenis tanaman pun didasarkan atas manfaat dan fungsinya ekologi maupun ekonomi. Tanaman semusim seperti jagung tersebut  diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi masyarakat sekitar kawasan. Sedangkan tanaman hutan tersebut berfungsi untuk memperbaiki sistem tata air, melindungi kerusakan tanah dan memperbaiki ekosistem hutan sehingga nantinya meminimalisir bencana alam.

Rehabilitasi di lahan tersebut  dilakukan sehingga kawasan yang terdegradasi dapat mengembalikan fungsinya sebagai perlindungan ekosistem dan tata air bagi daerah sekitarnya serta dapat juga memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat. (IFN/AET14)

INFO KOPERTIS VI

BERITA DIKTI

Go to top