Mahasiswa Asing Terkesan dengan Kopi Muria dan Batik Kudus

UMK – Sebanyak 22 mahasiswa dari berbagai negara yang tergabung dalam program Living In Asia (Lisia) 2019 diperkenalkan budaya, mulai dari Menara Kudus, batik Kudus hingga Kopi Muria yang merupakan komoditas asli Kudus. Baik batik dan kopi memiliki akar budaya dan sejarah dan seklaigus bernilai ekonomi.

Untuk kegiatan pengenalan Kopi Muria yang berada di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus dilakukan Jumat (18/1/2019). Seluruh mashsiswa yang tergabung dalam kegiatan Living In Asia (LISIA) 2019 langsung melihat praktek budidaya kopi hingga pembuatan kopi siap jual.

Shaitsa Azimi salah satu mahasiswa asal Afghanistan mengaku pengalaman pertama melihat tanaman dan proses pengolahan kopi. Karena di negara asalnya, kopi tidak ada. Namun tetap ada coffee shop.

Kegiatan tersebut cukup asik, karena mengetahui penanaman kopi, okulasi , proses pengolahan hingga menyeduh kopi langsung. ”Rasanya lebih enak dibanding yang pernah dia minum,” katanya.

Di negara asalnya, kopi memang harus impor, sebagian dari Turki, karena memang di negaranya tidak ada kebun kopi. Selain mendapatkan edukasi tentang kopi, ternyata juga ada sejarahnya, yakni bahwa kopi dikenalkan oleh Belanda yang menjajah Indonesia, sehingga kopi muria dikenal dengan kopi Wilhelmina, nama tersebut merupakan nama ratu Belanda.

Sementara itu Vu Hoai Thu asal Vietnam mengaku baru pertama kali melihat proses tanam kopi hingga menyeduh, walaupun di negaranya juga ada produksi kopi. Sehingga dia mendapatkan pengalaman baru tentang kopi justru di Kudus, Indonesia.

Untuk cita rasa kopi, dia mengatakan justru lebih kental rasa kopinya adalah kopi yang dia seduh atau Kopi Muria. Karena kopinya begitu terasa dan tanpa dicampuri dengan creamer.

Setelah dari eduaksi kopi, pengalaman benar-benar baru dari peserta LISIA 2019 yakni edukasi batik. Peserta diajak untuk membatik di Batik Muria miliki Yuli Astuti. Semuanya mengikuti tahapan pembatikan.

Semuanya memegang canting dan kain yang sudah dibuat sketsa gambar, didepannya terdapat wajan berisi lilin malam cair. Mereka terlihat serius dalam proses membuat motif menggunakan canting.

Kain yang di batik berisi motif khas Kudus, seperti gambar Menara Kudus. Selain itu kain hasil pembatikan diminta untuk ditulisi nama dan negara asal peserta. Kain yang dibatik menjadi cinderamata karena bisa digunakan untuk syal.

Setelah selesai membatik, peserta diajak mengunjungi Menara Kudus. Beberapa mahasiswa asing yang muslim justru tertarik untuk ziarah ke Makam Sunan Kudus.

Khusus mahasiswa Vietnam justru tertarik dengan bangunan Menara, karena bangunan tersebut persis dengan bangunan di Vietnam Utara. ”Arsitekturnya sama dengan bangunan di Vietnam Utara, Phan Tiet City, sejarahnya bangunan itu dari kerajaan champa, tapi di sana setahu saya tidak digunakan untuk ibadah apapun, baik hindu maupun Islam,” ungkap Nguyen Thi Nhat Tien mahasiswa asal Vietnam.

Selain itu mereka juga melihat rumah adat Kudus, banyak yang kaget karena rumah adat Kudus terbuat dari kayu asli yang usianya sudah sampai sekitar 200 tahun. Bahkan masih original, hanya lantai yang tersentuh renovasi. Bahkan setelah diinformasikan harga rumah adat Kudus sampai Rp 10 miliar, mereka semakin kaget.

Puluhan mahasiswa yang berasal dari Vietnam, Afganistan, Thailand, Mesir, Filipina, Sudan, Tajikistan, dan Burundi itu juga mendapatkan pengetahuan banyak tentang budaya Kudus.

Kepala Urusan Internasional (KUI) UMK Muntohar, kegiatan ini merupakan rangkaian dari acara "Living In Asian" yang diselenggarakan oleh UMK. Untuk kegiatan memang lebih banyak untuk mengenal kebudayaan.

Namun tak sekedar itu, kebudayaan yang ada ternyata juga memiliki nilai ekomis tinggi, mulai dari kopi dan batik. Sehingga mahasiswa asing bisa melihat potensi ekonomi tersebut. ”Pengenalan ini sekaligus memberikan pemahaman kepada mereka tentang konsep Gusjigang, terutama untuk 'gang' atau dagang. Kemudian bagaimana masyarakat Kudus mengembangakan potensi,” imbuhnya. (linfokom)